Kisah Gempa dan Insinyur Sipil yang Merana

Kala itu, hujan rintik-rintik, angin berdesir, langit serasa dirundung pilu yang teramat dalam. Gelap, tanpa seberkas sinar matahari pun yang masuk melalui sela-sela tirai langit. Tapi kami tidak sedang duduk di beranda, juga tidak sedang berdiri di tengah lapangan atau sedang nongkrong di pinggir jalan. Kami sedang merinding di dalam ruang kelas, menyaksikan wanita itu bercerita tentang guncangan dahsyat di dalam bumi yang terasa hingga ke permukaannya. Ya, kami hanya menyaksikan. Tidak benar-benar menyimak atau sekadar masuk kuping kiri keluar kuping kanan. Ia bercerita seolah-olah peristiwa itu hanya mainan. Kau tahu? Itu gempa bumi! Namun di tengah kisah ini, kami harus menerima kenyataan bahwa kamilah yang kelak akan bermain-main dengan peristiwa gempa bumi. Sepertinya ia berniat menjadikan kami tumbal atas kesenangannya mengada-adakan wujud makhluk tak hidup yang mampu meredam gempa. Bangunan tahan gempa. Paraaah! Minggu depan kami akan bertemu lagi dengan wanita ini. Saat hari itu datang, maka tibalah giliran kami untuk bercerita.

Mencari Topik Cerita

Saya menemukan artikel dalam sebuah laman di internet yang juga bercerita tentang gempa bumi. Mirisnya, pada baris pertama saja saya sudah disuguhi dengan pernyataan yang tidak mengasyikkan. “Earthquakes don’t kill people, buildings do.” Apa-apaan ini? Syariatnya, bangunanlah yang membunuh orang-orang, bukan gempanya! Setelah sering disalahkan oleh teknik arsitektur (karena jika bangunan indah arsitek yang dipuji, saat bangunan runtuh insinyur sipil yang dicaci), sekarang teknik sipil disalahkan oleh teknik geologi. Usut punya usut, saya berpikir, jika kami tidak ingin disalahkan melulu maka kami benar-benar harus menguasai cerita tentang gempa atau setidaknya sekadar ilmu hitung ketahanan bangunan terhadap pengganggu dari luar yang bisa menyebabkannya rontok menjadi puing. Ternyata wanita yang akan kami hadapi lagi minggu depan ini punya niat lain dari kelihatannya. Bukanlah kami ingin dijadikan tumbal, lebih tepatnya kami digiring untuk bisa memperbaiki citra yang selama ini sering dijatuhkan.

Selamat bersenang-senang dengan tugasmu, kawan!

Pranala luar: Earthquakes don’t kill people, buildings do