Dramaturgi Seorang Supir

Kota Depok, di pagi menjelang siang. Matahari mulai terik. Kota ini riuh, seriuh saat main game online bersama teman, dengan bising mesin kendaraan yang lalu-lalang dan toko-toko yang belum dibuka, mungkin karena ini hari Sabtu. Bagi sebagian orang yang tidak punya toko untuk dijaga, ini adalah waktu yang tepat untuk bermain bersama teman sebaya atau mengajak keluarga pergi piknik. Untuk ibu-ibu, ini waktu yang pas untuk menjemur anak balitanya di beranda rumah. Bagi sebagian orang lagi, ini adalah waktu sibuk mereka melakukan aktifitas rutin yang wajib hukumnya dan tidak boleh dilewatkan. Sebagian lainnya memanfaatkan rutinitas orang lain untuk dijadikan tempat mencari nafkah, terlepas dari benar atau tidaknya cara mereka mencari. Seperti Bapak supir angkot ini yang sedari tadi serasa jadi supir pribadi saya.

Saya bisa menilai Bapak ini mencari nafkah dengan cara yang benar walau dengan perilaku yang saya ingin salahkan. Badannya hadir berkendara, tapi mukanya berkaca entah di cermin yang mana. Ia tampak seperti melakukan seluruh kegiatan orang-orang yang saya sebutkan di awal tadi pada waktu yang bersamaan, yaitu saat ini juga. Penampilannya menarik, dengan kemeja putih bertekstur garis-garis lurus vertikal. Tampak sangat bersih dan rapi dari belakang, seperti orang kantoran. Tapi dengan celana cokelat dan tas selempangan kusam bergambar boneka itu ia malah jadi tampak lusuh, seperti orang pinggiran. Saya duduk tepat dibalik jok supir, sambil melirik ia ragu-ragu melalui kaca. Ternyata ia tidak juga pakai dasi. Kumis dan jenggotnya seperti bekas dicukur dua minggu lalu, sedangkan rambutnya dibiarkan tumbuh walau tampak enggan bertambah panjang lagi. Ia tampak renta dengan kerut yang sudah mulai memenuhi pipi dan dahi. Raut wajahnya dipaksakan berseri saat berhenti memanggil calon penumpangnya sesekali.

Sementara lengannya memutar-putar stir mobil, jarinya sibuk menekan tombol-tombol HP. Perilaku ini yang hampir membuat mobil angkot belok kanan dan masuk semak-semak taman kota. Ia selingi kegiatan mengemudi dengan mencari satu deret angka terangkai yang sudah diberi nama. Membuat panggilan berkali-kali, gagal berkali-kali, dengan nomor tujuan yang tetap sama. Bukankah seharusnya ia bisa menunggu sampai terminal, sampai mobil benar-benar berhenti dulu beroperasi?

Lalu, sekilas tersurat ekspresi rindu. Rindu yang memaksa menguap dari dalam melalui celah-celah tubuhnya. Entah. Niat saya untuk menyalahkannya dengan cepat berganti rasa damai yang menohok bertubi-tubi dalam satu detik waktu saja. Mungkin karena si Bapak mendadak tampan. Seperti tampannya seorang pria sejati bergelar ayah. Ya, seorang pria akan tampak jauh lebih tampan ketika ia patah hati dan kecewa, namun tetap bersembunyi di balik wajah riang. Nuansa sendu akan tetap tampak bila diperhatikan melalui gerak-gerik tubuhnya. Seperti juga wanita yang tetap mempesona saat bait-bait puisi gundah mengalir di hatinya, kendati harus dibalut temali berbuah simpul senyuman yang dengan rumit ia buat dibibirnya. Entah Bapak ini ingin menelpon istri, anak, atau lainnya. Yang jelas, rindu dendam terpancar dari sorot matanya bersamaan dengan sayang yang dipaksa tenggelam dalam riuh lalu-lintas kota.

Selamat menjadi seperti ayah dan bunda.